Re-connect
Membersamai tumbuh kembang anak sendiri, menjadi Ibu Rumah Tangga yang sehari-hari kebanyakan di rumah, ternyata malah memberi banyak pelajaran yang ga saya duga.
Kalau ada kata yang bisa mewakili bagaimana rasanya membersamai tumbuh kembang anak mungkin "unik" dan "kompleks" adalah dua kata teratas yang muncul di benak saya. Karena hasil dari usaha yang sudah dibekali ilmu pun,masih penuh dengan ketidakpastian. Tidak ada cara yang saklek, semua penuh penyesuaian. Karena lain anak, lain cara.
Tapi ternyata dari ketidakpastian itu, secara tidak langsung kita jadi lebih connect dengan Tuhan. Dengan berdoa, dengan berpasrah, dengan mencari ulang ilmu. Kali ini mencari ilmu dengan tujuan yang lebih jelas dan bisa langsung dicoba praktikan.
Kita juga jadi lebih termotivasi untuk memperbaiki diri. Bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik. Memperbaiki kebiasaan yang sebelumnya penuh dengan penundaan. Sekarang menjadi lebih baik susah sekarang (berbenah diri) dari pada susah nanti (membenahi anak yang terlanjur tumbuh dengan orang tua yang belum berbenah diri). Poin utama standar versi lebih baiknya tentu balik lagi ke apa yang diatur oleh Tuhan. Lagi-lagi membuat kita lebih connect dengan berusaha menjadi pribadi yang Tuhan inginkan.
Hal yang sederhana tapi dulu ga bisa pun saat ini jadi bisa. Shalat tepat setelah adzan berkumandang. Dulu rasanya berat sekali meninggalkan pekerjaan yang belum selesai ketika adzan datang. Kebanyakan menunda-nunda, bahkan dipepetkan waktunya dengan shalat berikutnya. Sekarang karena kebanyakan di rumah, bisa merasakan nikmatnya shalat tepat waktu (walaupun sambil dipanjatin bayi yaa hehe), dan kadang juga molor sih. Tapi sangat-sangat lebih baik dan tidak tergesa-gesa. Membuat hari-hari jauh lebih tenang.
Setiap apa yang dilakukan setelah memiliki anak, rasanya ujung-ujungnya kembali mendekatkan diri kita ke Tuhan. Jadi merasa re-connect lagi. Semoga koneksi terus semakin kuat selalu. Salam telekomunikasi.

0 komentar:
Post a Comment