Menurut keyakinan saya, tidak ada jawaban yang mutlak apakah lebih baik resign atau tetap bekerja. Ternyata semua itu tergantung pada pribadi dan kondisi masing-masing, cocok-cocokan. Cara mengetahuinya seperti apa? Ada dua faktor yang harus digali sebelum mengambil keputusan. Internal (kondisi diri sendiri) dan eksternal (kondisi finansial dan keluarga). Gali dan kenali diri sendiri apakah dalam jangka panjang Ibu akan lebih happy di rumah membersamai anak? Apa sumber kebahagiaan Ibu? Karena jika sumber kebahagiaan Ibu tidak ada di rumah (mungkin bahagia jika berpenghasilan, bertemu banyak orang, mendapatkan achievement-achievement profesional, dll), maka memilih untuk resign dan menjadi Ibu yang tidak bahagia, adalah bukan keputusan yang bijak. Anak akan dibersamai oleh seseorang yang jiwanya tidak penuh, hatinya tidak bahagia, maka lebih baik dipikirkan kembali. Tapi jika Ibu sudah tau mau melakukan apa setelah resign, sekiranya akan bahagia dengan aktivitas-aktivitas di rumah bersama anak, tidak memiliki kebutuhan yang hanya bisa dipenuhi jika berkarir, maka resign bisa jadi sebuah opsi (dengan catatan kondisi eksternal juga mendukung). Kondisi eksternal ini apa saja? Tentunya yang pertama adalah finansial. Jika semua kebutuhan sudah terpenuhi tanpa income dari Ibu, dan risiko-risiko kegagalan finansial ke depannya sangat minim terjadi/terukur, maka silakan dipertimbangkan. Faktor eksternal lain adalah keluarga dan support system yang ikut terlibat. Jika semua secara finansial sudah mandiri (tidak ada sandwich generation atau kebergantungan), dalam jangka panjang pun semua oke (proyeksikan setelah orang tua pensiun), maka bisa dipertimbangkan sesuai keyakinan diri.
Dulu sempet juga mengajukan pertanyaan seperti itu agar orang-orang sharing pengalamannya setelah resign dan memilih membersamai anak di rumah, harapannya biar jadi ga bingung dan yakin sama pilihan sendiri. Tapi ternyata baca pengalaman orang yang memberikan saran dan POV berbeda-bedam malah bikin makin bingung. Setelah merenung lagi beberapa waktu, baru sadar ternyata jawabannya itu bukan dari pengalaman-pengalaman orang-orang tersebut. Karena semua memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda, pribadi yang berbeda pula. Selama ini ternyata jawabannya ya ada pada diri sendiri. Sebenarnya kita sudah tau pilihan yang tepat bagi diri kita dan keluarga apa. Kadang kita hanya ragu karena ketakutan-ketakutan yang diceritakan orang lain, padahal sudah jelas belum tentu terjadi pada kehidupan kita, dan jika terjadi pun bisa jadi berbeda ceritanya karena kondisi awal kita pun sudah berbeda.
Jadi, sudah ga perlu lah perdebatan "Ibu Karier vs Ibu Rumah Tangga" itu, karena pada akhirnya ya itu semua cocok-cocokan. Tergantung situasi dan kondisi Ibu dan keluarga. Apapun pilihannya, yang penting bisa bertanggung jawab, membawa kebahagiaan dan kebaikan untuk diri sendiri maupun keluarga.
Kalau saya pribadi, so far happy sih dengan keputusan ini, Alhamdulillah. Mungkin satu hal yang membuat saya tidak merasa kekurangan apapun setelah resign adalah karena ada hobby dan pekerjaan lain yang menjadi tujuan hidup. Mungkin pacenya masih pelan, tapi setiap harinya terus saya kerjakan. Saya masih punya mimpi, keluarga masih support dengan mimpi saya, hanya timelinenya saja yang sedang disesuaikan. Saya pun beradaptasi untuk mengatur ritme hidup sesuai prioritas saat ini. All is well. MasyaAllah.

0 komentar:
Post a Comment